Jumat, 04 Februari 2011

Katagori Gramatika


f)      Katagori Gramatika ( Gramatical Categories)
Kategori Gramatika adalah kategori unsure-unsur gramatik ditinjau dari bentuk, fungsi, dan maknanya—dan biasanya dinyatakan dalam klasifikasi jenis kata, jumlah, jenis, kasus, dan tense. Disini, kita akan menguraikan tentang :
1.      Jumlah
2.      Jenis
3.      Tense

1)      Jumlah (Number)
Number adalah jenis kategori gramatikal yang membedakan tunggal, duo, dan jamak (Singular, dual, dan Plural). Bahasa Arab misalnya mempunyai tiga kategori dan tentunya akan memengaruhi pemilihan bentukan kata kerjanya. Dalam bahasa Inggris kita menemui cat/cats, man/men, sheep/sheep dan sebagainya, dan harus sepadan dengan :
-          Kata kerja seperti        : The cat runs way
   The cats run away
-          Kata petunjuk seperti  : This cat, these cats.
Adalagi kata-kata tunggal tapi mendapat pasangan kata kerja finit jamak. Kata benda semacam ini biasnya disebut dengan Noun of Multitide, seperti :
-          Committee
-          Cabinet, dan sebagainya.
Apalagi kata-kata benda yang selalu dipakai dalam pengertian jamak, yaitu : Poultry, people, gentry, catlle, vermin, mankid, dan clergy. Beberapa kata mempunyai bentuk tetap baik untuk tunggal maupun jamak, seperti : deer, sheep, swine, heathen series, species, dan means.
Male
Female
Male
Female
Host
Hostess
Tiger
Tigress
Jew
Jewess
Lion
Lioness
Prince
Princess
Duke
Duchess
Actor
Actress
Negro
Negress
Master
Mistress
Lad
Lass
2)      Jenis (Bender)





D

Dalam tata Bahasa Inggris tidak ada gender, memang ada pasangan-pasangan seperti father/mother, sir/madam, bachelor/spinster, monk/nun, cock/hen, horse/mare, ram/ewe, drake/duck, dog/bitch, dan sebagainya.

3)      Tense (Tenses)
Tense adalah kategori gramatik kata kerja yang dinyatakan dengan perbedaan gramatik dengan melihat waktu pengerjaanya kegiatan dan saat pengucapan kalimat (ujarannya). Singkatnya, Tenses adalah bentuk kata kerja untuk menyatakan hubungan waktu. Tenses menunjukan apakah satu kegiatan itu dilakukan dimasa silam, sekarang atau atau akan datang.
Memang ada bermacam-macam cara untuk menunjukan waktu yang akan datang, tapi cara-cara ini tidak bisa dijadikan alasan adanya future tense dalam Bahasa Inggris. Berikut ini beberapa bukti kesimpulan ini :
1.      Paradigma I shall, thou wilt(you will), he will, we shall, you will, they will, hanyalah sesuatu yang konvensional saja, penemuan para tata bahasawan.
2.      Shall dan will (yang sering digembar-gemborkan sebagai cirri future tense) adalah kata bantu yang mempunyai fungsi tidak beda seperti may, dan can.
3.      Will dipakai bukan hanya untuk menunjukan waktu yang akan datang, masih banyak fungsi-fungsi lainnya seperti :
a.       Keinginan              : I’ll come, if you ask me
b.      Kebiasaan              : She’ll sit four hours
c.       Kemungkinan        : That’ll be sam
d.      Kebenaran umum  : Oil will float on water
4.      Ada banyak cara untuk menunjukkan future tense diantaranya :
a.       Bentuk sedang (Progressive): I’am going to Jakarta nextweek
b.      Going to                            : I’am going to see her
c.       Simple Present                   : Lecture start on Tuesday
d.      About to                             : They are about to leave
e.       To come                             : In the five years to come
f.       To be                                 : You are teachers to be


g)    Persesuaian dan Penguasaan (Concord and Government)
Alat lain untuk menunjukkan struktur kalimat adalah Concord and Govermen, atau Persesuaian dan Penguasaan.
1)      Persesuaian
Ada beberapa istilah untuk concord ini, diantaranya : agreement, congruence, dan correspondence. Semua ini menuju kepada pengertian yang sama yaitu : persesuaian antara suatu kata dengan kata lain untuk menunjukkan tautan gramatik dalam kalimat.

Kata sifat harus sesuai dengan kata benda dalam 3 kategori : jumlah, kategori dan kasus seperti dalm contoh berikut ini :
-          Filius Bonus    ‘the godson’ (sing, masc, nominative)
-          Foli Boni         ‘of the good son’ (sing, fem, genitive)
-          Puella Bona     ‘the good girl’ (sing, fem, nominative)
-          Puella Bonarum           ‘ of the good girls’ (plur, fem, genitive)
Dari contoh diatas terlihat bahasa latin sangat bervariasi. Dalam Bahasa Prancis pun kata sifat harus sesuai dengan kata benda seperti la table est belle (female), tapi le cadean est beau ( male)
2)      Penguasaan (Government)
Government atau reation, atau kadang-kadang disebut syntactic regiman adalah alat sintaksis yang dengan alat ini bentuk infleksi kata tertentu ditentukan (dikuasai) oleh kata lain dalam satu konstruksi.
Dalam Bahasa Inggris istilah Government ini berlaku hanya pada kata ganti saja. Preposisi dan kata kerja mengatur bentuk-bentuk tertentu dari paradigm kata ganti, tergantung pada tautan sintaksisnya. Kita mengatakan tome, to her, I asked him, save us! Dan sebagainya.






h)    Subjek, Predikat, Objek
Ketiga istilah yang amat sering tampil dalam pemerian gramatik ini perlu diberi kejelasan acuan, Karen ketiga istialh ini bukan hanya didominasi oleh ilmu bahasa, disiplin ilmu lain terutam logika sangat sering memakainya. Kalaulah Linguistik memanfaatkan istilah-istilah ini, haruslah diingat bahwa setiap bahasa pun mesti mempunyai pemerian gramatik yang berbeda dari istilah-istilah itu. Dalam logika subjek/predikat ini adalah komponen dari preposisi yaitu pernyataan tentang hubungan yang terdapat diantara dua termi.
Ditinjau dari sudut psikologi, subjek adalah kata atau kata-kata yang mengacu pada sesuatu yang telah di maklumi pendengar. Sedangkan predikat adalah bagian dari kalimat yang menerangkan tentang itu. Dan objek adalah bagian kalimat yang mengacu pada sesuatu yang mengalami atau jadi tujuan tindakan.


kalimat efektif


Ciri-Ciri Kalimat Efektif
A. Ciri-Ciri Kalimat Efektif
Kalimat efektif mempunyai empat sifat / ciri, yaitu :
1) Kesatuan (Unity)
2) Kehematan (Economy)
3) Penekanan (Emphasis)
4) Kevariasian (Variety)
5) Kesejajaran
1. Kesatuan (Unity)
Kesatuan kalimat bisa dibentuk jika ada keselarasan antara subjek - predikat, predikat – objek, dan predikat – keterangan. Dalam penulisan tampak kalimat-kalimat yang panjang tidak mempunyai S dan p. Ada pula kalimat yang secara gramatikal mempunyai subjek yang diantarkan oleh partikel.hal seperti ini hendaknya dihindarkan oleh pemakai kalimat agar kesatuan gagasan yang hendak disampaikan dapat ditangkap dengan baik oleh pembaca atau pendengar.
Contoh ;
1. Bangsa Indonesia menginginkan keamanan, kesejahteraan, dan kedamaian.
2. Kebudayaan daerah adalah milik seluruh bangsa Indonesia
2. Kehematan (Economy)
Kehematan adalah adanya hubungan jumlah kata yang digunakan dengan luasnya jangkauan makna yang diacu. Sebuah kalimay dikatakan hemat bukan karena jumlah katanya sedikit, sebaliknya dikatakan tidak hemat kerena jumlah katanya terlalu banyak. Yang utama adalah seberapa banyakkah kata yang bermanfaat bagi pembaca atau pendengar. Dengan kata lain, tidak usah menggunakan belasan kata, kalau maksud yang dituju bisa dicapai dengan beberapa kata saja. Oleh karena itu, kata-kata yang tidak perlu bisa dihilangkan. Untuk penghematan kata-kata hal-hal berikut perlu diperhatikan.
a. Mengulang subjek kalimat
b. Hiponim dihindarkan
c. Pemkaian kata depan ‘dari’ dan ‘daripada’.
3. Penekanan (Emphasis)
a. Pemindahan letak Frase
b. Mengulang kata-kata yang sama
Disamping dilakukan dengandua hal yang disebutkan di atas, penekanan / penegasan dapat juga dilakukan dengan :
a. Penegasan dengan Intonasi
b. Penegasan dengan Partikel
c. Penegasan dengan kata keterangan
d. Penegasan dengan Kontras Makna
e. Penegasan dengan Pemindahan Unsur
f. Penegasan dalam bentuk pasif
4. Kevariasian (Variety)
Ciri kevariasian akan diperoleh jika kalimat yang satu dibandingkan dngan kalimat yang lain. Kemungkinan variasi kalimat tersebut sebagai berikut.
a. Variasi dalam pembukaan kalimat
Ada beberapa kemungkinan untuk memulai kalimat demi efektifitas, yaitu dengan variasi pada pembukaan kalimat. Dalam variasi pembukaan kalimat, sebuah kalimat dapat dimulai atau dibuka dengan :
1) Frase keterangan (waktu, tempat, cara)
2) Frase Benda
3) Frase Kerja
4) Partikel Penghubung
Contoh:
a) Mang Usil dari kompas menganggap hal ini sebagai suatu isarat sederhana untuk bertransmigrasi (Frase benda)
b) Dibuangnya jauh-jauh pikiran yang menghantuinya selama ini (Frase Kerja)
c) Karena bekerja terlalu berat dia jatuh sakit (frase Penghubung)
b. Variasi dalam pola kalimat
Untuk efektifitas kalimat dan untuk menghindari suasana menoton yang dapat menimbulkan kebosanan, pola kalimat subjek – Predikat – Objek dapat diubah menjadi predikat – objek – Subjek atau yang lainnya.
Contoh :
1) Dokter muda itu belum dikenal oleh masyarakat desa Sukamaju. (S – P- O)
2) Belum dikenal oleh masyarakat desa Sukamaju doketr muda itu. (P – O – S)
3) Dokter muda itu oleh masyarakat desa Sukamaju belum dikenal. (S – O – P)
c. Variasi dalam jenis kalimat
Untuk mencapai efektifitas sebuah kalimat berita atau pertanyaan, dapat dikatakan dalam kalimat Tanya atau kalimat perintah. Perhatikan contoh berikut.
…………………..Presiden SBY sekali lagi menegaskan perlunya kita lebih hati-hati memamakai bahan baker dan energi dalam negeri. Apakah kita menangkap peringatan tersebut?
Dalam kutipan tersebut terdapat satu kalimat yang dinyatakan dalam bentuk Tanya. Penulis tentu dapat mengatakannya dalam kalimat berita. Akan tetapi untuk mencapai efektifitas, ia memakai kalimat Tanya.
d. Variasi bentuk aktif-pasif
Perhatikan contoh berikut!
a) Pohon pisang itu cepat tumbuh. Kita dengan mudah dapat menanamnya dan memeliharanya. Lagi pula kita tidak perlu memupuknya. Kita hanya menggali lubang, menanam, dan tinggal menunggu buahnya.
Bandingkan dengan kalimat berikut!
b) Pohon pisang itu cepat tumbuh. Dengan mudah pohon pisang itu dapat ditanam dan dipelihara. Lagi pula tidak perlu dipupuk kita hanya menggali lubang, menanam dan tinggal menunggu buahnya.
Kalimat-kalimat pada paragaf (a) semuanya berupa kalimat katif, sedangkan pada paragraph (b) berupa kalimat aktif dan pasif. Dapat dikatakan, bahwa kalimat-kalimat pada paragraf (a) tidak bervariasi sedangkan paragraf (b) bervariasi, namun hanya variasi aktif – pasif.
5) KESEJAJARAN
Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.
Kalimat itu harus diubah :
1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan
2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
DAFTAR RUJUKAN
Putrayasa, Ida Bagus. 2007. Kalimat Efektif (Diksi, Struktur, dan Logika). Singaraja : Refika Aditama


Kalimat efektif adalah kalimat berisikan gagasan pembicara atau penulis secara singka, jelas, dan tepat.
Jelas       : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat   : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat       : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.
Kalimat dikatakan tidak efektif apabila kalimat tersebut tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.
Sebab-Sebab Ketidakefektifan Kalimat
1.    kontaminasi= merancukan 2 struktur benar  1 struktur salah
contoh:
-      diperlebar, dilebarkan  diperlebarkan (salah)
-      memperkuat, menguatkan  memperkuatkan (salah)
-      sangat baik, baik sekali  sangat baik sekali (salah)
-      saling memukul, pukul-memukul  saling pukul-memukul (salah)
-      Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni  Sekolah mengadakan pentas seni (salah)
2.    pleonasme= berlebihan, tumpang tindih
contoh:
-      para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
-      para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
-      banyak siswa-siswa (banyak siswa)
-      saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
-      agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
-      disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)
3.    tidak memiliki subjek
contoh:
-      Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
-      Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ??
-      Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)
4.    adanya kata depan yang tidak perlu
Contoh:
-      Perkembangan  daripada teknologi informasi sangat pesat.
-      Kepada siswa kelas VII berkumpul di GOR.
-      Selain daripada bekerja, ia juga kuliah.
5.    salah nalar
-      Waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
-      Vespa Pak Erwin mau dijual. (Apakah bisa menolak?)
-      Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
-      Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
-      Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)
-      Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
-      Bola gagal masuk gawang. (Ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk subjek bernyawa)
6.    kesalahan pembentukan  kata
-      mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
-      menyetop seharusnya menstop
-      mensoal seharusnya menyoal
-      ilmiawan seharusnya ilmuwan
-      sejarawan seharusnya ahli sejarah
7.    pengaruh bahasa asing
-      Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (seharusnya tempat)
-      Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)
-      Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)
8.    pengaruh bahasa daerah
-      … sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
-      … oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)
-      Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)
http://tunggara.wordpress.com/2008/09/24/kalimat-efektif/
Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu dipahami pembaca sesuai dengan maksud penulisnya. Sebaliknya, kalimat yang sulit dipahami atau salah terpahami oleh pembacanya termasuk kalimat yang kurang efektif. Kalimat yang efektif memiliki ciri struktur yang kompak, paralel, hemat, cermat, padu, dan logis. Marilah kita diskusikan setiap ciri ini pada bagian berikut ini!
http://suherlicentre.blogspot.com/2009/02/kalimat-efektif-dalam-naskah-pidato.html

Gurindam 12

Gurindam 12

Gurindam 12 merupakan puisi, hasil karya Raja Ali Haji seorang sastrawan dan Pahlawan Nasional dari Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau.
Kapan hari pas nonton TV (lupa stasiunnya), ada liputan tentang Gurindam 12 karya Raja Ali Haji. Menurut liputan tersebut, gurindam 12 dijadikan sebagai pedoman hidup, khususnya bagi masyarakat Melayu.
Jadi penasaran isinya kaya apa. Waktu sekolah dulu sih pernah dibahas di pelajaran sastra, tapi udah gak ingat lagi detilnya. Jadi, pelampiasannya maen ke rumah oom wiki buat tahu lebih lanjut tentang isi gurindam 12.
Kesimpulannya: ........sepatutnyalah dijadikan pedoman hidup bagi semua orang.....................
Gurindam I
Ini gurindam pasal yang pertama:
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia melarat.

Gurindam II
Ini gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Gurindam III
Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.

Gurindam IV
Ini gurindam pasal yang keempat:
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah fikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Gurindam V
Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Gurindam VI
Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

Gurindam VII
Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Gurindam VIII
Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Gurindam IX
Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Gurindam X
Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

Gurindam XI
Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Gurindam XII
Ini gurindam pasal yang kedua belas:

Gurindam 12, pasal yang ke 11 dan ke 12

Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh anayat.
Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.